Cilok akrab di panggil Mang Ji. Mang Ji sudah

Cilok merupakan jajanan yang sangat disukai anak-anak sekolah.
Cilok menjadi jajanan yang paling disukai karena rasanya yang enak dan
mengenyangkan. Selain itu, harga cilok tidaklah mahal, dengan uang dua ribu
rupiah kita dapat menikmati enaknya cilok. Cilok dapat dinikmati pada setiap
waktu dan suasana. Pada saat suasana terik maupun susana dingin akibat hujan.
Penjual cilok bisanya ada di depan SDN Nusa Bangsa. Setiap hari sangatlah ramai
dipenuhi pembeli hingga sang penjual tak kelihatan. Dari anak kelas satu sampai
anak kelas enam selalu mengantre untuk membeli cilok. Penjual cilok biasa akrab
di panggil Mang Ji. Mang Ji sudah berjualan di depan SDN Nusa Bangsa sejak
Laras di kelas TK hingga sekarang Laras kelas enam. Mang Ji hanya berjualan
dengan gerobak persegi panjang yang berkaki lima.

            Laras sangat
menyukai cilok buatan Mang Ji yang enak dan gurih. Ia selalu menyisihkan
uangnya sebesar dua ribu rupiah untuk membeli cilok. Mang Ji menjual cilok
dengan bumbu kacang, sambal, kecap, dan saos. Laras sangat menyukai cilok
dengan bumbu kacang dan kecap. Laras hanya akan berhenti makan cilok di hari
Minggu atau ketika libur sekolah, selebihnya ia selalu membeli cilok buatan
Mang ji. Ibu Laras tidak pernah melarang Laras untuk makan cilok karena cilok
buatan Mang Ji yang terkenal enak juga menyehatkan karena ada campuran sayur
diadonan cilok.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Siang itu sehabis
pulang sekolah Laras ingin membeli cilok kesukaannya. Tetapi, pada hari itu ada
yang berbeda. Biasanya anak-anak sudah mengantre di depan gerobak cilok Mang
Ji. Namun, saat itu telihat sepi dan tak ada Mang Ji yang berjualan cilok. Di
situ hanya terlihat penjual gulali, es krim dan siomay. Sedangkan mang Ji tidak
terlihat diantara penjual jajanan di sana. Laras mulai mencari mang Ji di
sekitar penjual jajanan sekolah, namun laras tak menemukan gerobak cilok Mang
Ji. Akhirnya Laras dengan perasaan kecewa memutuskan untuk pulang menaiki
sepeda kesayangannya, sebab rumah Laras dan sekolahnya cukup jauh.

****

Kesokan harinya, Laras berangkat ke sekolah bersama Nayli teman
sekelas Laras yang juga tetangganya.

“Nay, kamu tau kenapa ya Mang Ji yang jualan cilok itu kok kemarin
tidak jualan? Padahal aku sangat suka ciloknya loh” kata Laras.

“Mungkin Mang Ji pindah tempat jualan, Ras. Aku kemarin waktu
pulang sekolah mencarinya juga gak ketemu.” jawab Nayli.

Lalu terdengar suara bel tanda jam pelajaran akan dimulai. Laras
dan Nayli segera masuk kelas. Percakapan mareka berdua berakhir ketika mereka
berdua masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Jam pelajaran telah usai, saatnya
Laras dan Nayli pulang ke rumah. Seperti biasa Laras mencari Mang Ji penjual
cilok kesukaannya. Namun Laras tidak menemukan Mang Ji. Lalu laras memberanikan
diri untuk bertanya pada penjual jajanan yang lain yaitu pada penjual es krim,
penjual es krim tersebut juga tidak tahu alasan Mang Ji tidak berjualan sejak
kemarin. Penjual es krim tersebut hanya memberikan alamat rumah Mang Ji kepada Laras.
Saat itu juga Laras dan Nayli mengayuh sepedanya menuju ke rumah Mang Ji. Lalu
Laras mengetuk pintu rumah Mang Ji. Dan tiba-tiba yang membukakan pintu
tersebut adalah Sasa teman Laras dan Nayli sekelas.

“Sasa, loh kenapa dua hari ini kamu tidak masuk sekolah? Bukankah
ini rumah Mang Ji?” tanya laras kepada Sasa.

“Masuk dulu Ras, Nay. Iya, sebenarnya Mang Ji adalah ayahku. Tapi
aku tidak pernah bercerita kepada teman-teman. Saat ini ayahku sedang sakit.
Karean itulah ayahku sudah tidak berjualan sejak kemarin.” Kata Sasa sambil
berjalan mendekati ayahnya.

“Pantas saja, sudah beberapa hari ini aku ingin membeli cilok
buatan ayah kamu tapi tak pernah ada. Semoga lekas sembuh ya Mang.’ Kata Laras.

“Terimakasih ya Ras. Aku belum bisa membawa ayahku berobat ke
dokter. Sebab aku hanya tinggal berdua dengan ayahku, dan kami belum punya
cukup uang untuk berobat.” Kata Sasa sambil tertunduk dan menyeka air mata.

“Sudahlah Sa, jangan bersedih kami akan berusaha membantu kamu.”
Kata Laras.

 Lalu Laras dan Nayli
berpamitan pulang. Seusainya mengunjungi Rumah Mang Ji yang juga rumah temannya
yaitu Sasa. Keesokan harinya mereka berdua meminta bantuan sumbangan ke
teman-teman sekelasnya untuk berobat Mang Ji sekaligus membantu temannya yaitu
Sasa. Seusai pulang sekolah dan uangnya sudah terkumpul Laras dan Nayli segera
mengantarkan uang tersebut ke rumah Mang Ji. Dan pada hari itu juga Mang Ji
dibawa berobat. Sasa sangat bersyukur mempunyai teman yang amat peduli dengan
keadaan ayahnya. Semenjak itu, semua menjadi bersahabat dengan baik dan Mang Ji
sudah sembuh dan dapat berjualan cilok seperti biasanya.